Catatan Hari Bumi, Merawat Lingkungan atau Tergadai di Tanah Sendiri

oleh -

KABARTA.ID, BONE — Tanggal 22 April ditetapkan sebagai Hari Bumi Internasional. Setiap tahun diperingati. Namun tak sekadar memperingati. Melainkan diwajibkan untuk dipelihara.

Sudah jelas dalam pasal 33 UUD 1945 ayat 3 yang berbunyi Bumi, Air dan Kekayaan Alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bukan untuk pribadi.

Bumi Arung Palakka digempur oleh tambang. Bone Barat ada batu bara tepatnya di Kecamatan Lamuru yang dikerjakan oleh PT Pasir Walannae yang jelas-jelas merusak lingkungan, dan dikeluhkan oleh banyak warga.

Bone Selatan ada tambang marmer. Dikerjakan oleh PT Emporium Bukit Marmer. Perusahaan pemilik Wilayah Izin Usaha Pertambangan dengan luas 126,5 Ha dan telah mengantongi izin usaha produksi (IUP) aktivitas pertambangan marmer.

Baca Juga:  'Mattompang Arajang', Bupati : Momentum Mengingat Sejarah Kejayaan Bone

Cukup unik. Dalam investigasi Walhi Sulsel IUP telah terbit, namun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang belum pernah menerbitkan rekomendasi teknis terkait dengan aktivitas tambang marmer di Hulu DAS Walanae.

Di Bone Utara ada banyak tambang Galian C sepanjang DAS Walanae. Jelas-jelas sudah merugikan masyarakat. Merusak jalan. Bahkan pengelolanya nyaris tak mengantongi izin.

Ketua Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) Provinsi Sulsel, M Idris A Palloge sangat menyayangkan apa yang terjadi di Bone yang katanya kota beradat ini.

“Ini adalah bunuh diri. Kita harus mengakhiri perang melawan alam dan merawatnya kembali agar sehat. Bumi diamanatkan oleh tuhan kepada manusia untuk dikuasai, bukan untuk dieksploitasi,” katanya Kamis, (22/4/2021).

Baca Juga:  Bupati Buatkan Asrama Puteri Untuk KEPMA Bone Senilai Rp 1, 2 Miliar di Wajo

Namun kata dia, sudah sepatutnya semua orang menjaga bumi ini bukan hanya ditanggal 22 April saja, tetapi diwajibkan memelihara setiap saat. Tidak dengan gegabah merampas sumber daya bumi, menghabisi kehidupan liar, dan memperlakukan udara, tanah, dan lautan seperti tempat pembuangan.

“Apa kita akan merawat bumi ini ataukah kita membiarkan saudara-saudara kita menjadi orang lain di tanahnya sendiri,” ucapnya.

Lilo sapaan karibnya menuturkan, tambang liar seakan tak terbendung, pembalakan terjadi dimana-mana, sampah seakan menjadi primadona di kota kecil yang katanya beradat ini, problematika sungai walanae seakan tidak berujung.

“Hari ini bumi seakan hanya sebagai media eksploitasi oleh orang-orang serakah yang hanya mementingkan pribadi maupun golongannya, tanpa memikirkan khalayak hidup anak cucunya. Berhentilah eksploitasi bumi. Mari merawatnya bersama,” ujarnya. (mmi/an)

Baca Juga:  Hari Bhayangkara ke -  74,  Ini Kado Spesial Tenri Betta Perkusi Bone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *